Rabu, 28 Maret 2012



<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI LINGKARAN MELALUI PEMBIASAAN TUGAS MANDIRI “BERANTAI” PADA SISWA KELAS VIII E SMP NEGERI 2 GUMELAR

TAHUN PELAJARAN 2010/2011

Oleh : Sairan, S.Pd.

Matematika sebagai salah satu pelajaran UN masih dianggap sulit bagi sebagian besar siswa SMP Negeri 2 Gumelar. Karena anggapan itulah maka motivasi siswa untuk belajar matematika kurang. Hal ini terbukti dari hasil observasi awal yang dilakukan pada siswa kelas VIII E tahun pelajaran 2010/2011. Hasil persentasi skor motivasi sebelum tindakan, siswa yang memiliki motivasi sangat tinggi 0 %, tinggi 47,37 %, rendah 52,63 % dan sangat rendah 0 %. Ketuntasan belajar siswa pada setiap materi matematika masih rendah (rata-rata 60,00) padahal Kriteria Ketuntasan Minimalnya 62

Untuk mengatasi hal tersebut di atas, penulis selaku guru di kelas tersebut mengambil tindakan (action) berupa pembiasaan tugas mandiri “berantai” dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar matematika. Pemilihan kata berantai dimaksudkan bahwa pada penelitian ini siswa diberi tugas mandiri namun demikian dalam pelaksanaannya adalah “bersama-sama antar individu”. Kata berantai juga dimaksudkan bahwa dalam mengerjakan tugas mandiri saling berhubungan dengan siswa lain seperti layaknya rantai saling mengait.

Berdasarkan hasil pengamatan, angket dan evaluasi belajar selama 2 siklus diperoleh data bahwa ada peningkatan motivasi dan hasil belajar setelah melakukan tindakan ini. Hal ini dibuktikan dengan hasil persentasi skor motivasi dimana sebelum tindakan, siswa yang memiliki motivasi sangat tinggi 0 %, tinggi 47,37 %, rendah 52,63 % dan sangat rendah 0 %, sedangkan sesudah tindakan, siswa yang memiliki motivasi sangat tinggi 34,21 %, tinggi 63,16 % rendah 0,03 % dan sangat rendah 0 %. Hasil belajar meningkat meskipun belum tinggi. Perolehan nilai rata-rata hasil evaluasi belajar sebelum tindakan yang hanya mencapai 60, pada siklus II mencapai rata-rata 70.

Selasa, 07 Februari 2012

MGMP MATEMATIKA CLUSTER IV : KAJIAN PREDIKSI SOAL UN

Rabu, 8 Pebruari 2012. MGMP Matematika cluster 04 Kab. Banyumas mengadakan kegiatan bermutu bertempat di SMP Negeri 2 Gumelar. Banyak hal yang menjadi kajian pada kegiatan tersebut. Satu di antaranya : membuat soal prediksi UN 2012 sebagai tindak lanjut dari bedah SKL
Antusiasme peserta membuat acara menjadi semakin gayeng mengikuti kegiatan ini. Di bawah panduan guru pemandu Bpk. Sugeng, S.Pd., acara dikemas menjadi diskusi kelompok.
Cukup banyak yang hadir pada kegiatan tersebut.
Photo_00009.jpg



Kamis, 02 Juni 2011

Ngeblog lagi ah..

Lama saya tidak ngeblog. Baru sekarang ada niat lagi untuk mencoba menulis. Mudah-mudahan ini adalah awal yang baik bagi saya dan pembaca dimanapun. Sekaligus untuk konek dengan teman-teman seperjuangan yang pernah bersama dan belum pernah bersama berbagi pengalaman.
Besok tanggal 4 Juni 2011 semua sekolah (SMP/Mts) akan mengumumkan "kelulusan". Kita semua tentunya berharap mudah-mudahan tidak ada aral melintang. Semua berjalan sesuai yang diharapkan...
Anak-anak bisa hepy, guru juga senang dan sekolah meningkat mutunya. Amien..

Selasa, 17 Maret 2009

Mengajarlah dengan senyum

Mengajarlah dengan senyum, kata hatiku.
Lalu...
Sudah.

Mengajarlah dengan senyum

Mengajarlah dengan senyum, kata temanku.
Kurangilah rasa cemberutmu agar mukamu tidak menakutkan, begitulah kata hatiku.
Lalu...
Sudah.

Mengajarlah dengan senyum

Sertifikasi, telah mengubah hidupku!!!
Benar, aku benar-benar telah terpengaruh dengan ilmu yang kuperoleh saat mengikuti perkuliahan di UNY.
Aku baru menyadari bahwa mengajar haruslah dengan senyum. Tapi tidak senyum terus....
Senyumlah secukupnya....
Uwis.

Kamis, 15 Januari 2009

USAHA-USAHA GURU UNTUK MENINGKATKAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA MENUJU KUALITAS KEDUA (ANTARA TEORI DAN PENGALAMAN)


Belajar merupakan suatu proses bagi siswa untuk menguasai berbagai kompetensi. Belajar yang bermakna merupakan belajar yang disertai pengertian. Belajar bermakna akan terjadi bila informasi yang baru diterima mempunyai hubungan dengan konsep yang sudah ada pada diri siswa. Perkembangan intelektual pada siswa terjadi secara terus menerus, sesuai dengan lingkungan di sekitarnya.

Tidak semua siswa dapat atau mampu menerima dan mencerna pelajaran-pelajaran yang diberikan di sekolah. Sebagian diantara mereka bahkan menganggap beberapa pelajaran sulit dan bahkan membosankan

Pembelajaran matematika yang berlangsung (Di SMP Negeri 2 Gumelar) selama ini belum secara optimal melibatkan belajar aktif dalam menyelesaikan tugas sebagai tuntutan akademis maupun sosial sewaktu bekerja di kelas. Keadaan yang terjadi sesungguhnya siswa belum banyak terlibat secara bertanggung jawab dalam suatu kelompok kerja. Kegiatan pembelajaran masih banyak ditentukan oleh guru.

Siswa hanya sedikit mendapat kesempatan untuk bekerja dalam tugas-tugas bersama, akibatnya banyak siswa yang belum mengetahui bagaimana bekerja secara kooperatif. Selain itu ada kemungkinan justru siswa yang satu mengganggu siswa yang lainnnya. Hal tersebut dapat berdampak meniadakan kesempatan siswa untuk berinisiatif dan bekerja dengan arahan sendiri.

Lingkungan belajar SMP Negeri 2 Gumelar belum merupakan lingkungan system sosial yang kondusif untuk pelaksanaan pembelajaran yang demokratif dan ilmiah. Hal ini dapat berdampak lemahnya hasil belajar yang dapat terjadi karena kurangnya interaksi antar siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas yang sulit terutama penguasaan materi. Disisi lain guru juga kurang memberikan penghargaan sebagai bentuk hadiah kepada siswa.

Untuk memberikan solusi tentang rendahnya motivasi dan prestasi belajar matematika penulis mencoba melakukan berbagai cara untuk meningkatkan kualitas pembelajarannnya dengan menerapkan model-model pembelajaran dan perbaikan scenario pembelajaran (RPP) dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa. Adapun usaha-usaha yang dilakukan antara lain :

1. Memperbaiki skenario pembelajaran yang awalnya berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa.

2. Penggunaan alat peraga dan sumber belajar lainnya yang lebih intensif agar pemahaman anak lebih baik

3. Berkolaborasi dengan teman sejawat untuk menggali kekurangan-kekurangan selama mengajar

4. Memanfaatkan pembelajaran berbasis lingkungan agar lebih mengena dan menarik bagi siswa.

5. Selalu berusaha untuk menggali informasi dan pengalaman baru sebagai bekal mengajar anak didik sehingga guru tidak lagi kurang informasi.

6. Menerapkan model-model belajar sebagai bentuk inovasi dalam pembelajaran agar anak termotivasi untuk belajar matematika.

Demikian beberapa usaha yang telah penulis lakukan sebagai upaya untuk memperbaiki teknik mengajar yang selama ini masih banyak kekurangan. Semoga ke depan akan lebih baik lagi. Amien.